Bagaikan Menolong Anjing yang Terjepit
Hidup sering kali mempertemukan kita dengan kenyataan yang sulit diterima, seperti pengkhianatan dari orang-orang yang kita percayai. Peribahasa "Bagaikan menolong anjing yang terjepit"Ā terasa begitu relevan ketika kebaikan yang diberikan justru dibalas dengan perlakuan yang menyakitkan.
Orang-orang yang pernah berada di sekitar saya, yang saya anggap dekat, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang memanfaatkan kelemahan saya. Mereka tidak segan melakukan penghianatan dan kelicikan demi keuntungan materi. Ada keheningan dalam hati ketika menyadari bahwa kerapuhan relasi ini lahir dari ketidaktulusan. Apakah ini sifat alami manusia? Ataukah hanya ambisi yang mengaburkan nilai kemanusiaan?
"Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu. Sesungguhnya, segala yang pergi membuka jalan bagi sesuatu yang lebih baik untuk datang."Ā ā Jalaluddin Rumi
Saya mencoba menerima kenyataan bahwa tidak semua orang menghargai apa yang mereka terima. Hidup mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan balasan atas perbuatan seseorang tidak akan luput dari hukum alam atau kehendak Tuhan. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seorang Muslim itu ditimpa musibah, baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan, atau rasa gelisah, sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya."Ā (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
Mereka bermain drama, memainkan strateginya demi keuntungan materi yang tak seberapa, tidak menyadari bahwa tindakan mereka adalah refleksi dari jiwa yang kosong. Sebenarnya saya tahu apa yang terjadi, tetapi saya memilih untuk berpura pura bodoh supaya bisa tahu tingkat intelektual mereka, saya diam tak melawan dan tidak mau terjebak dalam lingkaran balas dendam. Karena dendam, seperti beban, yang hanya akan menahan langkah menuju kedamaian, Saya terima, saya pasrah, silahkan sekenario dimainkan.
Pernah, suatu ketika saya mencoba mencurahkan hati saya, saya sampaikan apa adanya apa yang terjadi sebenar-benarnya, ironisnya justru saya mengalami apa yang dinamakan "Blaming the Victim". Dunia ini tidak selalu adil, dan tidak jarang korbanlah yang justru dipersalahkan. dianggap baperan dan terlalu didominasi oleh perasaan, Namun, meski kesendirian menyelimuti, ada kelegaan dalam menerima bahwa kebenaran tidak memerlukan pengakuan.
"Ketika kau bersabar dalam kesakitan, kau sedang menciptakan keindahan yang tak terlihat oleh dunia, tetapi dihargai oleh langit."Ā ā Jalaluddin Rumi
Keprihatinan dan Kekecewaan memang membutuhkan waktu untuk sembuh. Saya memilih untuk melihat ke depan, membiarkan pengalaman ini menjadi pelajaran, dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan hikmah. Balas dendam tidak akan memperbaiki apa pun; hanya ketulusan dan kebijaksanaan yang dapat membawa kedamaian. Insya Allah Berkah.
"Kebencian hanya akan memberatkan langkahmu. Lepaskan, dan kau akan terbang menuju kedamaian."
Kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, jika kalian pernah merasa dikhianati atau tidak dihargai, tetaplah berbuat baik. Dunia ini mungkin penuh kepalsuan, tetapi kebaikan yang tulus adalah cahaya yang tak pernah padam. Percayalah, pada saat yang tepat, segala kebaikan yang kita tabur akan kembali kepada kita dalam bentuk yang indah, bahkan lebih dari yang kita bayangkan.





Komentar