top of page
Cari

Loka Arunita Renjana

30 Jan 2025
2 menit membaca

Diperbarui: 27 Mar 2025

Di bawah mega yang merunduk rendah,

seorang lelaki berjalan dalam diam,

tanpa ambisi, tanpa eskalasi,

hanya kidung sunyi yang mengalun di hati,

mencari damai dalam nirmala yang hakiki.


Ia tak peduli pada gemerlap buana,

bukan suryakanta yang menggoda pandang,

bukan genta yang menggema di kejauhan,

melainkan sahaja—ketenangan yang ia temui

di antara sepi dan syukur yang dalam.


Lokananta di hatinya adalah tempat pulang,

di sanalah ia menyatu dengan niskala,

tanpa tergoda oleh klandestin dunia,

yang hanya menebar bayang Asmaraloka,

sekadar kama yang fana, semu, dan sirna.


Tak ada gentar dalam langkahnya,

sebab ia telah menemukan swastamita,

kehidupan yang penuh pancarona,

di mana niskala menjelma nyata,

dan cinta membara dalam api abadi.


Di dunia yang kerap merapah,

di mana hati dipenuhi renjana dan karsa,

ia memilih berdiam dalam sahaja,

memeluk kidung sederhana yang dibawanya,

membiarkan lembayung angin membisikkan nirwana

yang tak terucap, namun abadi di sanubari.


Ia tak mencari kemegahan atau kekayaan,

sebab jiwanya telah penuh dengan amerta—

setiap senyum, setiap tatapan,

bagai candala yang meluruhkan nestapa,

tanpa menuntut dunia untuk berubah.


Langkahnya tenang, seperti lakara yang abadi,

tak terusik oleh taksa dan taklif,

hanya winaya yang membimbing,

hanya genta yang mengalun di jiwanya,

mencari harmoni dalam sunyi yang suci.


Di ujung jalan, lelaki itu hanya ingin satu:

hidup di antara mereka yang sejati,

yang membawa nuraga dalam kata dan laku,

tak terperdaya oleh kemegahan semu,

sebab dalam kedamaian yang sederhana,

ia telah menemukan keabadian.


Kehidupannya adalah litani berwarna,

setiap hela nafas adalah karya Tuhan,

dan ia tahu, di balik permainan dunia,

ada nirwana yang lebih indah dari yang tampak—

arunika yang abadi, melampaui batas waktu.


Di balik mata yang kenes,

tersimpan swastamita yang tak tergoyahkan,

tak terhanyut oleh sandyakala,

sebab ia tahu, renjana hanyalah milik mereka yang meraki,

yang tak tergoda oleh kilau dunia,

yang hidup dalam ketulusan murni,

sederhana, namun penuh berkah tanpa tepi.


Lelaki itu, dengan hatinya yang sahaja,

menyatu dengan semesta,

menyadari bahwa sejatinya,

kedamaian adalah perjalanan yang abadi,

dan ia telah menemukannya—

dalam setiap nafas, dalam setiap langkah,

dalam setiap genta yang bergetar lembut.


Di ujung kidung ini,

ia hanya menginginkan swastamita—

sederhana, namun sejati,

menemukan kedamaian dalam hidup yang meraki,

dan di sanalah ia akan tetap berada,

di dunia yang telah lama ia sebut rumah.

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page