Politik Tanpa Wacana, Money Politik, dan Tantangan Bagi Idealisme
Dalam dinamika politik yang beragam di Indonesia, sejumlah tantangan mendominasi perbincangan. Menjelang pemilihan presiden, isu-isu krusial seperti gagasan dan visi masa depan sering terpinggirkan oleh perdebatan taktik elektoral dan pencitraan. Politik, yang seharusnya menjadi panggung untuk mencapai perubahan positif bagi masyarakat, terkadang terdistorsi menjadi panggung untuk pertunjukan politik semata. Alasannya mungkin karena kandidat dan partai lebih terpaku pada strategi berkoalisi serta siapa yang akan menjadi calon wakil mereka, ketimbang pada substansi pemikiran dan rencana nyata. Albert Einstein pernah mengatakan bahwa politik bukanlah sebuah panggung hiburan, melainkan panggung untuk mewujudkan perubahan positif bagi masyarakat. Dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik, gagasan-gagasan mendalam dan rencana konkret adalah kunci keberhasilan.
Mahatma Gandhi, dalam pandangannya tentang pentingnya tindakan yang berakar dari pemikiran, mengingatkan bahwa pencitraan tanpa tindakan nyata hanya akan menciptakan citra negatif terhadap politik. Para pemimpin yang benar-benar berkomitmen pada kemajuan, harus mampu menggabungkan kata-kata mereka dengan tindakan konsisten. Namun seakan mereka melupakan bahwa pemilihan pemimpin bukanlah masalah elektabilitas dan pencitraan semata, tetapi lebih mendasar pada kompetensi dan kapabilitas individu yang akan memimpin.
Selain disuguhi perilaku "Aneh" dari para elit politik, kita juga prihatin dengan praktik money politik yang mengancam demokrasi Indonesia. Kita semua menyadari bahwa praktek money politik menjadi lumrah pada setiap tahap pemilihan, termasuk Pilkades, Pilkada, dan Pileg. Hal ini sudah jelas jelas kontras dengan sabda Rasulullah SAW tentang Risywah:
ŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§Ų“ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ±ŁŲŖŁŲ“ŁŁŁ
āRasulullah melaknat penyuap dan yang menerima suapā (HR Khamsah kecuali an-Nasaāi dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi).
Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
Ā«ŁŁŁ ŁŲŁ ŁŲØŲŖ ŲØŲ§ŁŲ³ŁŲŲŖ ŁŲ§ŁŁŲ§Ų± Ų£ŁŁŁ ŲØŁĀ» ŁŲ§ŁŁŲ§ : ŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ Ų§ŁŲ³ŲŲŖŲ ŁŲ§Ł : «اŁŲ±Ų“ŁŲ© ŁŁ Ų§ŁŲŁŁ Ā»
āSetiap daging yang tumbuh dari barang yang haram (as-suht) nerakalah yang paling layak untuknya.ā Mereka bertanya: āYa Rasulullah, apa barang haram (as-suht) yang dimaksud?ā, āSuap dalam perkara hukumā (Al-Qurthubi 1/ 1708)
ditambah lagi dengan keberadaan undang-undang yang mengatur larangan money politik. Anehnya, praktek ini masih sering diabaikan, baik oleh pejabat negara maupun masyarakat. Bahkan, ada yang secara paradoks memperjuangkan kebaikan melalui dakwah, namun seakan tak ada upaya serius untuk memberantas praktek kotor ini.
Franklin D. Roosevelt, mantan Presiden Amerika Serikat, mengingatkan kita bahwa demokrasi hanya bisa berfungsi dengan baik jika didasari oleh prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, dan kemurahan hati. Praktek money politik tidak hanya menghancurkan integritas pemilihan, tetapi juga menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga politik. John F. Kennedy, presiden yang dikenang sepanjang sejarah Amerika, juga mengajak kita untuk tidak hanya bertanya apa yang negara bisa lakukan untuk kita, melainkan juga apa yang bisa kita lakukan untuk negara. Peran masyarakat sipil, media, para pemimpin dan tokoh agama dalam membersihkan politik kotor dan perilaku koruptif menjadi sangat penting dalam mengatasi masalah ini.
Pertanyaan krusial yang muncul adalah, apakah idealisme masih memiliki tempat dalam kondisi politik yang semakin kompleks ini? Idealisme adalah pendorong perubahan positif dan sumber inspirasi. Di tengah politik yang seringkali pragmatis, idealisme adalah suara-suara yang berani menantang status quo, mengejar nilai-nilai murni seperti kejujuran, keadilan, dan kemurahan hati. Mereka adalah penjaga semangat demokrasi, mengingatkan bahwa perubahan, meskipun sulit, bukanlah sesuatu yang mustahil. Di politik yang terkadang kehilangan wacana, idealisme adalah suara yang membawa fokus kembali pada gagasan dan prinsip yang mendasari fondasi demokrasi yang sejati.
Dengan semua tantangan ini, politik Indonesia sedang menghadapi ujian yang berat. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita, sebagai masyarakat dan pemilih, akan merespons tantangan ini. Politik seharusnya menjadi alat untuk mencapai perubahan positif, dan masa depan demokrasi kita sangat bergantung pada keseriusan kita dalam memilih pemimpin yang memiliki visi, gagasan, dan integritas untuk memimpin negara ini menuju arah yang lebih baik. Hanya dengan bekerja bersama, kita dapat menciptakan politik yang lebih bermakna dan demokrasi yang kuat untuk Indonesia.





Komentar